Polisi menggrebek sebuah rumah di Perumahan Puri Nusaphala, Kelurahan Jati Luhur, Kecamatan Jati Asih, Bekasi, Sabtu 8 Agustus 2009 dini hari. Di rumah yang disewa seseorang bernama Ahmad Fery tersebut ditemukan bom seberat 120 kilogram. Polri menduga bahan peledak itu akan digunakan untuk meledakan Istana Negara dan kediaman SBY di Cikeas.
Benarkah informasi polisi? Belum bisa dipastikan, namun klaim polisi tersebut justru dipertanyakan. Salah satunya oleh pakar militer dan intelijen Universitas Parahyangan, Bandung, Dr Anak Agung Banyu Perwita.
"Polisi terlalu terburu-buru mengklaim bahan peledak tersebut akan diledakan di Cikeas dan Istana Negara," kata Banyu Perwita sebagaimana dikutip dari VIVAnews, Selasa 11 Agustus 2009. Klaim polisi tersebut harus didasarkan data-data yang kuat.
Sebab, tambah dia, sasaran teroris di Indonesia bukan pada pimpinan negara, melainkan pada simbol-simbol Amerika atau Barat. Kalaupun berpindah sasaran ke target politik, itu terlalu ekstrim.
"Kalaupun informasi tersebut data intelijen, sulit diverifikasi. Mudah di-make up, mengada-ada. Saya sepakat bahwa istana dan Cikeas harus diamankan, tapi mengumumkan dua tempat itu sebagai target teroris, itu mengada-ada," tambah Banyu Perwita.
Dikhawatirkan klaim polisi hanya didasarkan atas pernyataan SBY pasca ledakan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton. Dalam pernyataannya, SBY dengan pede dan sok terzalimi mengumumkan diri sebagai target teroris pasca kemenangannya dalam Pemilu Presiden 2009.
"Saya khawatir itu politisasi untuk membuat publik percaya presiden dizalimi, mudah-mudahan saya salah," tambah Banyu Perwita.
Terkait dugaan motif balas dendam atas eksekusi trio Bom Bali, Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas, Banyu Perwita mengatakan itu bukan tipe teroris di Indonesia. "Tren terorisme di Indonesia bukan balas dendam," tambah dia.
Dalam konferensi pers pada Sabtu 8 Agustus 2009, Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan bahwa SBY menjadi target adalah pengakuan salah satu tersangka teroris, Amir Ibrahim kepada polisi.
"Pada 30 April lalu Noordin M Top memimpin sidang di Kuningan Jawa Barat. Dia men-declare presiden sebagai target. Noordin menilai teman-temannya dieksekusi berdasarkan keputusan presiden. Padahal yang menjatuhkan vonis itu pengadilan," kata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Sabtu 8 Agustus 2009 di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta.
Pemilihan tempat di Jati Asih ini juga dinilai sangat strategis, karena lokasi dekat Cikeas. "Hanya butuh 12 menit ke Cikeas," katanya.
Jati Asih dalam skenario ini hanya menjadi tempat singgah. Sedangkan perakitan bom dilakukan di Cilacap. (muslimdaily/viva)
Tempatkan SBY Sebagai Target, Polisi Politisasi Penggerebekan Di Bekasi
Diposting Selasa, 11-08-2009 | 10:48:43 WIB
TweetDiposting Selasa, 11-08-2009 | 10:48:43 WIB
